
Pemilik perusahaan PT. Bamba Rattan Furniture, di Sulawesi Tengah (Sulteng), Kamardin ST
PALU(Tilongkabilanews.id)— Memiliki prinsip menjaga kepercayaan konsumen atau buyer bagi pelaku usaha sangat penting dan menjadi keharusan. Tujuannya agar konsumen iu semakin loyal dan setia untuk terus membeli produk yang dibuat atau dipasarkannya. Prinsip menjaga kepercayaan ini diyakini menjadi salah satu pendorong untuk maju dan berkembangya suatu bisnis yang sedang dijalankannya.
Prinsip menjaga kepercayaan konsumen itu menjadi pegangan bagi salah seorang pelaku bisnis industri pembuatan furnitur di Sulawesi Tengah(Sulteng). Pelaku bisnis yang dimaksud yaitu semangat Kamardin, ST, selaku pemilik perusahaan PT. Bamba Rattan Furniture.
‘’Menjaga kepercayaan itu mesti dipatuhi oleh pelaku usaha yang bergerak dalam pembutan suatau produk, salah satunya produsen furnitur,’’ujar Kamardin ketika berbincang dengan wartawan Tilongkabilanews.id, Kamis (21/8/2025).
Karena itu berkat teguhnya merawat prinsip hidup dengan menjaga kepercayaan ini yang dijalani Kamardin, ternyata menjadi benang merah perjalanannya sebagai owner PT. Bamba Rattan Furniture sekaligus pendamping para pengrajin di jantung Sulawesi Tengah.
Bermodalkan pengalamannya di Pusat Inovasi Rotan Nasional (PIRNAS) kini menjadi bekalnya merajut harapan industri lokal dalam pembuatan mebel maupun kerajinan berbahan rotan.
Kamardin, dengan segala prestasi dan keprihatinannya, adalah simbol ketahanan. Di tangannya, rotan bukan sekadar bahan baku mebel, tapi urat nadi industri lokal yang berdenyut di tengah gempuran zaman.
Prinsip “menjaga kepercayaan” ia wujudkan bukan hanya pada produk, tapi juga pada komitmennya membina, melatih, dan berjuang agar nadi industri mebel rotan Sulawesi Tengah tetap berdetak, menenun harapan satu anyaman demi anyaman.
Kamardin sendiri berharap denyut industri pembuatan mebel atau kerajinan rotan di Sulawei Tengah itu terus mengalami pertumbuhan atau berkembang dan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.
Untuk itu, Kamardin terus aktif membina kelompok ibu-ibu pengrajin anyaman dan melatih calon-calon pengusaha mebel dan kerajinan rotan. Kegiatan seperti ini seperti yang dia lakukan di Kabupaten Sigi, batas Kota Palu
“Kegiatan pelatihan ini merupakan programnya Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, tapi kami ditempatkan di Kabupaten Sigi, salah satu sentra rotan dan kayu,” ujar Kamardin.
Kegiataan pelatihan ini,ucap Kamardin bukan sekadar teori. Tetapi terus didampingi, dikungunjungi, bahkan berbagi desain dan akun secara cuma-
Dedikasinya berbuah prestasi.
Atas dukungan pemerintah, Kamardin pernah mewakili Industri Kecil Menengah (IKM) rotan se-Indonesia ke pameran di Jerman tahun 2013. “Mujur sekali saya dapat program itu,” kenangnya.
Pengetahuannya tentang desain dan kualitas juga terasah melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi ternama di Bandung, Jawa Barat, yaitu ITB dan desainer Jerman. Tak hanya itu, Kamardin juga meraih Juara II Nasional Gugus Kendali Mutu Kementerian Perindustrian untuk materi “Antisipasi Cacat Mebel Rotan”.
Pada kesempatan itu, Kamardin mengungkapkan, ternyata perjalanan bisnis pembuatan mebel dan kerajinan rotan di Sulawesi Tengah itu seperti yang dijalani dirinya tidak selamanya mulus, melainkan adanya tantangan berat yang mesti dihadapinya.
Tantangan yang timbulnya itu, kata Kamardin datang dari sektor pertambangan.Adanya tantangan dari sektor pertambangan ini, kegiatan usaha industri mebel rotan di Palu mengalami penyusutan.
‘’Dahalu pengusaha industri mebel rotan di Palu sebanyak 32 pengusaha, namun sekarang ini yang berjalan normal tinggal 6 pengusaha”tuturnya.
Menurutnya ada dua faktor utama penyebab terjadinya penyusutan jumlah pengusaha pembuat mebel dan kerrajinan rotan di Palu. Kedua faktor penyusutan itu, yaitu regenerasi yang terputus dan derasnya arus tenaga kerja ke sektor pertambangan.
“Orang-orang tua dulu sudah ada yang meninggal, tidak ada pelanjut karena masalah SDM yang kurang,” ujarnya. Lebih menyakitkan, tenaga terampil yang semula membantunya berproduksi pun banyak yang beralih ke tambang. “Helper-helper dibutuhkan, walaupun tanpa skill, mereka diambil dan dilatih di sana. Itu yang mengurangi tenaga kami,” keluhnya. Belum lagi tantangan inovasi desain dan kualitas untuk mengejar permintaan pasar yang semakin dinamis.
Menghadapi tantangan itu, harapan Kamardin kepada pemerintah daerah dan pusat, serta Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) yang sedang diaktifkan kembali, terasa sangat substansial.
Pertama terkait Pasar dan Pendampingan: “Harapan kami bagaimana supaya industri mebel dan kerajinan ini bisa berjalan, dan pasarnya ada.” Ia menekankan bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar bantuan dana, tapi dukungan nyata untuk membuka akses pasar.
Kedua adalah Informasi Tren Global: “Banyak pengusaha HIMKI yang pemain global, orang besar, tahu produk yang laku di pasar global… Informasi seperti itu yang kami sangat harapkan.” Ia membayangkan HIMKI bisa memberi arahan konkret tentang desain, kualitas, atau finishing yang sedang tren di pasar internasional, sehingga IKM di daerah bisa menyesuaikan.
Ketiga tentu soal Peralatan jika memungkinkan: Meski enggan meminta, ia mengakui kebutuhan akan peralatan. “Kalaupun ada alat kira-kira dibutuhkan di sana, mungkin kami bisa diinformasikan… itu sangat kami butuhkan.
Diakhir perbincangannya, Kamardin menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna, yaitu komitmen untuk saling mendukung antara anggota HIMKI di daerah dengan pusat.
“Kami anggota HIMKI di Sulawesi Tengah berupaya membantu apa yang diinginkan Pusat. Begitupun sebaliknya.”pungkas Kamardin. (Lili)