Hadirnya HIMKI pada Forum Bisnis di Osaka Expo 2025 dalam Rangka Perkuat Posisi Ekspor ke Jepang

 Ekonomi

 

OSAKA (Tilongkabilanews.id)- Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) memiliki pandangan Indonesia perlu memperkuat  pasar ekspornya ke Jepang. Selama ini Jepang sendiri tercatat sebagai pasar ekspor terbesar kedua bagi produk furniture dan kerajinan Indonesia setelah Amerika Serikat.

Untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar ekspor ke Jepang , khususnya di sektor produk furniture dan kerajinan, HIMKI terus memanfaatkan berbagai kesempatan dengan melakukan promosi.

Terkait  promosi ke buyer di ‘’Negeri Matahari Terbit’’ tersebut, baru-baru ini, Tim Delegasi HIMKI  ikut serta dalam kegiatan  Forum Bisnis yang diselenggarakan Federasi Kehutanan dan Industri Produk Kayu Indonesia (FKMPI) di Osaka Expo 2025 yang berlangsung 9 Mei 2025 lalu.

‘’Kehadiran HIMKI sebagai salah satu asosiasi industri terkemuka Indonesia dalam acara Forum Bisnis yang diselenggarakan FKMPI pada kegiatan Osaka Expo 2025 , yaitu  dalam rangka mempromosikan produk furniture dan kerajinan berbasis kayu dan bahan alami lainnya,’’ujar  Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur dalam keterangan persnya yang diterima Redaksi Tilongkabilanews.id, Kamis (15/5/2025).

Sobur mengatakan lebih lanjut, kegiatan Forum Bisnis yang diselenggarakan FKMPI di Osaka Expo 2025 ini tentu menjadi momentum penting bagi Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar ekspor Jepang.

Pada kesempatan itu, Abdul Sobur, menekankan komitmen HIMKI untuk terus mendukung pengembangan produk furniture dan kerajinan yang tidak hanya inovatif dan berkualitas tinggi, tetapi juga legal dan berkelanjutan. Sebagai wujud nyata dari komitmen tersebut, HIMKI mengirimkan delegasi khusus untuk menghadiri dan berpartisipasi dalam forum ini.

Sementara Wakil Ketua Umum HIMKI Bidang Keuangan, Veronika Anggraini dalam presentasinya pada acara Forum Bisnis di Osaka Expo 2025 menjelaskan,

forum ini merupakan langkah nyata dalam membangun kemitraan jangka panjang dengan para pembeli dan asosiasi Jepang. Karena itu, pihak HIMKI, tambah Veronika, berharap dapat membuka peluang kolaborasi baru dan pertumbuhan bersama.

Dalam forum bisnis tersebut, Veronika menyampaikan saat ini HIMKI memiliki lebih dari 2.500 anggota dari berbagai skala usaha — dari kecil hingga besar.

‘’Karena itu, HIMKI akan terus mendorong kolaborasi antar pelaku industri untuk memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global,’’kata Veronika.

Dalam forum ini, Veronika menyampaikan kalau HIMKI  mengajak para pembeli dan mitra potensial Jepang untuk menjajaki kemitraan strategis, baik melalui penandatanganan MoU, pelatihan bersama, hingga kunjungan timbal balik.

“Indonesia memiliki potensi besar dalam industri furniture dan kerajinan, tidak hanya dari segi produk berkualitas dan berkelanjutan, tetapi juga sebagai pemain aktif dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui perdagangan karbon,” tambah Veronika Anggraini dalam paparannya. 

Jepang Pasar Ekspor Strategis

Jepang sendiri tercatat sebagai pasar ekspor terbesar kedua bagi produk furniture dan kerajinan Indonesia setelah Amerika Serikat. Berdasarkan data HIMKI, ekspor produk furniture berbasis kayu masih mendominasi pasar Jepang, sejalan dengan preferensi konsumen Jepang terhadap produk berkualitas tinggi, berbahan kayu legal, dan memiliki desain fungsional serta ramah lingkungan.

Tim Delegasi HIMKI ketika menghadiri kegiatan Forum Bisnis yang diselenggarakan Federasi Kehutanan dan Industri Produk Kayu Indonesia (FKMPI) di Osaka Expo 2025 yang berlangsung 9 Mei 2025 lalu.

Pada 2025, pasar furniture Jepang diproyeksikan mencapai USD 23,15 miliar dan terus bertumbuh menjadi USD 26,22 miliar pada tahun 2030 hingga membuka peluang besar bagi Indonesia untuk terus meningkatkan ekspor produk furniture dan kerajinan yang berkelanjutan dan bersertifikat.

Ketua FKMPI sekaligus penggagas forum bisnis bisnis pada acara Osaka Expo, Indroyono Soesilo, mengatakan tentang peran penting Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) Indonesia dalam memperkokoh posisi Indonesia dalam perdagangan internasional produk hasil hutan.

‘’SVLK bukan hanya sekadar sertifikasi legalitas, tetapi juga menjadi jaminan keberlanjutan yang sangat dihargai di pasar global,’’jelas Indroyono.

Indroyono menyebutkan nilai ekspor produk hasil hutan Indonesia pada tahun 2024 mencapai USD 12,63 miliar, dengan tujuan utama ke China, Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, dan Korea.

‘’Sementara ekspor ke Jepang didominasi oleh produk panel, kertas, furniture, serpih kayu, dan wood-working, dengan total nilai ekspor mencapai USD 301 juta pada tahun 2024,” jelas Indroyono Soesilo.

Sementara Direktur Rehabilitasi Magrove Kementrian Kehutanan Ristianto Pribadi, yang bertindak sebagai moderator pada sesi kedua Business Forum ini juga menekankan kelebihan SVLK dalam system industri kehutanan dan ditambah dengan adanya SVLK plus yang telah diberlakukan saat ini semakin menunjukkan komitmen kuat Indonesia menciptakan industri yang berkelanjutan.

Forum Bisnis ini tidak hanya membahas potensi perdagangan produk furniture dan kerajinan, tetapi juga menggali peluang baru melalui perdagangan karbon. FKMPI memperkenalkan potensi perdagangan karbon Indonesia kepada Jepang sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim.

Dalam hal ini, HIMKI berperan penting dengan menginisiasi program keberlanjutan yang terintegrasi melalui SVLK+ (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu Plus). SVLK+ bukan hanya memastikan legalitas produk kayu yang diekspor, tetapi juga mencakup pendidikan tentang literasi karbon dan pelatihan dekarbonisasi bagi para anggota HIMKI. Melalui inisiatif ini, produk furniture kayu Indonesia tidak hanya menjadi produk bernilai tambah tinggi, tetapi juga berkontribusi sebagai penyimpan karbon jangka panjang, yang pada akhirnya berpotensi mendapatkan manfaat ekonomi melalui perdagangan karbon.

Salah satu sorotan penting dalam forum tersebut adalah pernyataan dari Ketua Komite KADIN untuk Standarisasi dan Harmonisasi Wilayah Sumatra II Parlindungan Purba.

“Masih banyak lahan yang belum dioptimalkan bisa ditanami bambu dan diolah. Potensi dari produk turunan bambu memiliki peluang yang sangat besar di Jepang dan juga negara lain. Kita perlu mempertimbangkan penggunaan teknologi untuk mengolah bambu menjadi produk turunan lainnya, seperti furniture dan produk lain yang memiliki nilai tambah,” ujar Parlindungan Purba.(Lili)

 

banner 468x60

Author: 

Related Posts