
Ketua DPD HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia) Bali jyang uga Direktur PT Mitra Bali Fair Trade, Hani Wardani Duarsa
BALI(Tilongkabilanews.id) – Perkembangan bisnis produk mebel dan kerajinan atau home decoration Indonesia sebenarnya cukup bagus. Perkembangan bisnis produk yang menggembirakan tersebut didukung oleh kemampuan kreativitas para pengrajin dan desainer yang luar biasa dalam menghasilkan karya produk akhir yang memiliki nilai jual tinggi.
‘’Namun perkembangan bisnis mebel dan kerajinan atau home decoration di Indonesia masih terkendala akibat banyak regulasi atau peraturan yang dkeluarkan pemerintah Indonesia yang berubah-ubah. Maksudnya regulasi yang diterbitkan pemerintah tersebut menunjukkan tidak konsisten dalam mendukung kemajuan industri mebel dan kerajinan di dalam negeri. Hal ini tentunya sangat menyulitkan pelaku industri mebel dan kerajinan, terutama bagi IKM yang bergerak di bisnis serupa untuk tetap bersaing,’’ beber Ketua DPD HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia) Bali jyang juga Direktur PT Mitra Bali Fair Trade, Hani Wardani Duarsa dalam perbicangan dengan media, Minggu (16/6/2024).
Lanjut Hani, berubah-ubahnya perarutan yang diterbitkan pemerintah ini dikhwatirkan akan mematikan pelaku bisnis di tanah air., Selain banyaknya regulasi yang membingungkan para pelaku bisnis di bidang mebel dan kerajinan, juga ada faktor lain yang dinilai ikut berpengaruh dalam kesetabilan dalam berbisnis. Faktor lain yang dimaksud disini, yaitu melemahnya nilai tukar mata uang Indonesia atau Rupiah terhadap mata uang asing..
‘’Melemahnya nilai tukar Rupiah sebagai mata uang kita ini tentu akan menjadi beban berat bagi pelaku bisnis di Indonesia yang harus mengeluarkan lebih banyak untuk membeli bahan baku yang masih diimpor. Karena itu, kami para pelaku bisnis sangat berharap terhadap pemerintah untuk mampu menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah,’’ kata Hani.
Sebagai pelaku bisnis atau pemilik perusahaan PT Mitra Bali Fair Trade yang bergerak dalam usaha pembuatan produk kerajinan atau home decoration, di satu sisi dengan tingginya nilai tukar mata uang Dolar AS itu seolah-olah pendapatan pelaku bisnis di Indonesia dari hasil penjualan produk itu bertambah.

salah satu produk kerajinan buatan PT Mitra Bali Trade Fair
‘’Tetapi kenyataanya, penghasilan dari eskpor itu seolah-olah banyak. Sementara, bagi pelaku bisnis, salah satunya saya sendiri harus mengeleluarkan biaya tinggi juga untuk membeli bahan baku yang akan digunakan untuk membuat poduk kerajinan secara impor,’’ jelas Hani.
Karena itu menurut Hani, pemerintah harus berpikir bagaimana membuat kebijakan atau regulasi yang dapat mendukung kemajuan bagi pelaku industri dalam negeri. Pasalnya majunya suatu industri akan memberikan dampak positif atau manfaat banyak bagi masyarakat maupun perekonomian Indonesia itu sendiri.
Pada kesempatan itu, Hani menyebutkan PT Mitra Bali Fair Trade sendiri memproduksi kerajinan berupa Kitchenware Wooden Decoration. Semua produksi yang dihasilkan PT Mitra Bali Trade Fair sampai saat ini pasarnya sekitar 90 persen untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Sementara sisanya untuk memenuhi permintaan pasar di dalam negeri.
Hani yang memulai binsis produk kerajinan di Pulau Dewata pada tahun 1993 menyebutkan buyer yang rutin mengimpor produk kerajinan yang dihasilkan PT Mirta Bali Trade ini, yaitu diantaranya , Amerika Serikat, Jerman, Austria, Republic Czech, Denmark, Jepang, Australia, Columbia dan Turki. Para buyer dari luar negeri seperti yang disebutkan diatas, mereka pada umumnya loyal untuk selalu mengorder kembali ke PT Mitra Bali Trade Fair.
‘’Bahkan pemintaan pasar ekspor ini tentu membuat tren penjualan produk kerajinan yang kami hasilkan mengalami peningkatan. Contohnya penjualan produk kerajinan ke pasar ekspor pada tahun 2020 hingga 2022 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2019,’’ ucap Hani.
Namun omset penjualan di tahun 2023 dan pertengahan 2024 ini, tambah Hani mengalami penurunan. Terjadinya penurunan ini diakibatkan terjadinya peperangan di beberapa negara, sehingga kondisi itu menyebabkan proses pengiriman terhambat.
Hani mengungkapkan, sekarang ini dia perlahan-lahan akan mengubah target pangsa pasar, yaitu semula pasar utamanya untuk memenuhi kebutuhan ekspor, akan menambah volume pasar di dalam negeri.
‘’Untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri ini, kita akan lakukan perlahan-lahan. Semula hanya 10 persen secara berjenjang bisa jadi 20 persen. Bahkan kalau bisa dalam menggarap pasar ini secara seimbang, yaitu pasar ekspor dan dalam negeri masing-masing 50 persen,’’ tambah Hani.
Keseriusan Hani untuk menggarap pasar di dalam negeri dengan menambahkan prosentasi penjualannya dari semula hanya 10 persen, sekarang sedikit sedikit mulai dilakukan penambahan. Beberapa hotel di Bali sudah membeli dan menggunakan produk kerajinan buatan PT Mitra Bali Trade Fair. Demikian juga ke kota lain, salah satunya di Jakarta sudah ada toko yang menjual produk kerajinan hasil produksi dari Mitra Bali.
Ketika ditanyakan apa rahasianya, PT Mitra Bali Trade mulai tahun 1993 hingga sekarang bisa terus tumbuh dalam menjalankan bisnis di industri pembuatan produk kerajinan?
Menurut Hani, pelaku usaha itu harus peduli terhadap alam dan manusia di sekitarnya serta jujur dalam menjalankan usaha.
‘’Maksudnya, kita harus peduli terhadap alam dan jangan merusak seenaknya. . Peduli terhadap manusia, yaitu pelaku usaha harus memperhatikan para pekerja atau perajin maupun desainer dengan memberikan upah yang baik dan layak. Kita sebagai pelaku usaha jangan seenaknya memberikan upah yang tidak sesuai standar. Selain itu perhatikan kesejahteraannya. Karena tanpa adanya dukungan atau bantuan dari mereka , yaitu perajin dan desainer dalam menghasilkan produk berkualitas, apa yang bisa dijual atau dipasarkan oleh kita,’’ imbuh Hani.
Hani menambahkan, tidak kalah penting lagi yang harus dipegang pelaku usaha, yaitu pelaku usaha harus bersikap jujur. Artinya jika tidak mampu dalam mengerjakan suatu order yang dipesan buyer, katakan tidak mampu dan jangan memberikan harapan yang tidak jelas. Pasalnya hal itu dapat merugikan pelaku usaha itu sendiri, karena bisa mengurangi kepercayaan buyer akibat ketidak jujuran dari pelaku usha itu.(Lili)