Tren danTantangan yang Harus Disikapi Pelaku Industri Furnitur dan Kerajinan Indonesia Saat Ini

 Ekonomi

 

CEO CV Razzaq Berkah Mulia,Iman Rahman

JAKARTA(Tilongkabilanews.id)- Pasar furnitur global terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. Pada tahun 2023, pasar furnitur global tumbuh sebesar 4,2%, didorong oleh peningkatan urbanisasi, pembangunan infrastruktur, dan perubahan gaya hidup. Kawasan Amerika Utara, Eropa, dan Asia-Pasifik tetap menjadi pasar dengan permintaan terbesar. Produk-produk yang sangat diminati termasuk furnitur modular, furnitur ruang tamu, dan furnitur kantor.

‘’Meningkatnya pertumbuhan positif pasar furnitur ini, ,terutama untuk produk mebel yang ramah lingkungan. Meningkatnya pasar furnitur yang ramah lingkungan ini, disebabkan  karena mulai sadarnya konsumen global akan dampak lingkungan dari produk yang mereka beli,’’ CEO CV Razzaq Berkah Mulia,Iman Rahman ketika berbincang dengan Tilongkabilanews.id, Kamis (15/8/2024).

Meningkatnya permintaan akan produk furnitur yang ramah lingkungan itu, dikarenakan adanya peruabahan atau trend yang terjadi di tingkat global menuju keberlanjutan . Hal ini tentunya telah mendorong produsen furnitur di Indonesia untuk mengadopsi praktik ramah lingkungan dalam produksi mereka. ‘’Karena itu, penggunaan bahan daur ulang, kayu yang bersertifikasi, dan proses produksi yang efisien energi menjadi semakin umum. Buktinya  sekitar 40% dari produsen furnitur di Indonesia kini telah mengimplementasikan praktik berkelanjutan dalam rantai produksi mereka,’.tutur pria yang mempunyai hobi memotret itu menjelaskan..

Pria yang sudah lama berkecimpung di sektor keuangan itu mengemukakan, Indonesia sendiri menempati posisi strategis sebagai salah satu produsen dan eksportir utama furnitur dan kerajinan tangan di dunia. Pertumbuhan industri ini telah meningkat secara signifikan selama beberapa dekade terakhir. Adapun yang  pendorong  yang menjadikan Indonesia menempati posisi strategis sebagai salah satu produen  dan eksportit furniture dunia ini, dipengaruhi beberapa faktor kunci yang mendukung pertumbuhan ini meliputi ketersediaan sumber daya alam yang melimpah, tenaga kerja yang terampil, serta peningkatan permintaan global terhadap produk-produk unik dan berkualitas tinggi dari Indonesia.

Sementara ini pertumbuhan ekspor produk furnitur Indonesia terutama yang terbuat dari kayu, rotan, dan bambu, sangat diminati di pasar internasional.  Buktinya pada tahun 2023, ekspor furnitur Indonesia meningkat sebesar 8% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur sebagai pasar utama.

Demikian juga pasar kerajinan global juga tumbuh, dengan pertumbuhan sebesar 5% pada tahun 2023. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya minat konsumen terhadap produk-produk buatan tangan dan etnik. Produk kerajinan yang diproduksi dengan teknik tradisional dan menggunakan bahan alami mendapatkan perhatian lebih di pasar internasional, terutama di Eropa dan Amerika Utara.

Selain pasar ekspor, pasar domestik juga menunjukkan pertumbuhan yang solid. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan pendapatan per kapita, urbanisasi, dan perkembangan sektor properti. Pada tahun 2023, pasar furnitur domestik tumbuh sebesar 6%, dengan masyarakat Indonesia yang semakin mencari furnitur dengan desain modern dan minimalis yang memadukan elemen tradisional.

Prospek dan Tantangan

Pada kesempatan itu, Iman Rahman pun mengingatkan anggota HIMKI terkait sejumlah tantangan yang harus dihadapinya. Walaupun industri furniture dan kerajinan Indonesia,kata Iman  Rahman  mempunyai prospek bagus dan memiliki posisi strategis di sektor industri dan bisnis mebel  dan kerajinan dunia serta meningkatnya ekspor  kedua produk, tetapi ada tantangan yang harus dihadapinya dengan cermat.

Disebutkan Iman Rahman ada beberapa tantangan yang  harus dihadapi indutri furnitur dan kerajinan  Indonesia,, yaitu terkait bahan baku, tenaga kerja, persaingan global, trend dan inovasi serta digitalisasi dan e-commerce dalam bidang pemasaran produk.

Mengenai bahan baku, kata Iman Rahman,meskipun Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, ketersediaan bahan baku berkualitas dan legal menjadi tantangan.

‘’ Isu-isu terkait deforestasi dan regulasi kehutanan yang ketat dapat mempengaruhi pasokan bahan baku, terutama kayu. Karena sekitar 30% dari bahan baku kayu yang digunakan dalam industri furnitur di Indonesia masih menghadapi kendala dalam hal legalitas dan keberlanjutan,’’ujar pria yang menyukai warna favorite biru menjelaskan.

Adapun soal tenaga kerja,  ucap Iman Rahman, walaupun tenaga kerja yang terampil tersedia,  namun tetap diperlukan pelatihan berkelanjutan untuk memenuhi standar internasional, khususnya dalam hal desain dan kualitas produk.

‘’Saat ini hnya sekitar 25% tenaga kerja di industri ini yang memiliki keterampilan desain yang memadai, menunjukkan kebutuhan mendesak untuk program peningkatan keterampilan,’’tuturnya.

Mengenai persaingan global, produsen furnitur Indonesia menghadapi persaingan ketat dari negara-negara seperti China, Vietnam, dan Malaysia. Negara-negara ini juga dikenal sebagai produsen furnitur utama di dunia dan memiliki keunggulan kompetitif dalam hal harga. Produk dari negara-negara ini sering kali dapat dijual dengan harga lebih rendah hingga 15-20% dibandingkan produk serupa dari Indonesia.

Tantangan lainnya  yang harus dihadapi industri furniture dan kerajinan Indonesia, yaitu  perlu memperhatikannya tren pasar yang menginginkan adanya inovasi baru terhadap produk furnitur yang dibuat para pelaku industri furniture dan kerajinan.

 Karena tren  pasar global saat ini ungkan Iman Rahman yaitu menuju keberlanjutan  yang telah mendorong produsen furnitur di Indonesia untuk mengadopsi praktik ramah lingkungan dalam produksi mereka.

Dia menambahkan tantangan lainnya,yaitu terkait perkembangan digitalisasi dan e-commerce yang dimanfaatkan dalam proses pemasaran maupun transkasi jual beli produk. Karena dengan adanya transformasi digital di sektor ritel telah mengubah cara produsen furnitur dan kerajinan dalam menjangkau konsumen dalam memasarkan produknya. Bahkan sekarang ini penjualan online melalui platform e-commerce meningkat sebesar 25% pada tahun 2023, baik untuk pasar domestik maupun internasional.

‘’ Ini menunjukkan platform e-commerce telah menjadi saluran penting untuk menjangkau konsumen yang lebih luas dan mengurangi ketergantungan pada pasar tradisiona,’’imbuh dia..

Selain tantangan yang harus dihadapinya, demikian juga dengan tren pasar pun harus diikuti perkembangannya oleh pelaku industri furnitur Indonesia.  Karena saat ini tren yang terjadi di pasar furnitur, yaitu  adanya keinginan dari konsumen yang mengingkan produk furnitur pintar.

‘Maksudnya produk furniture itu dilengkapi dengan teknologi modern seperti pengisian nirkabel, speaker terintegrasi, dan kontrol pencahayaan, menjadi semakin populer, terutama di pasar-pasar maju.  Perlu diketahu penjualan furnitur pintar tumbuh sebesar 7% pada tahun 2023,’’ungkap Iman Rahman..

Selain itu juga, sekarang ini konsumen global pun semakin mencari produk furnitur dan kerajinan yang dapat disesuaikan dengan preferensi pribadi mereka. Hal ini menciptakan peluang bagi produsen untuk menawarkan produk yang dapat dikustomisasi. Pada tahun 2023, sekitar 30% dari furnitur yang diproduksi di pasar global menawarkan opsi kustomisasi. (Lili)

 

 

 

banner 468x60

Author: 

Related Posts