Perbaiki Daya Saing, di Inndustri Mebel dan Kerajinan Nasional Saat Ini Sangat Penting

 Ekonomi

 

Pelaku industri mebel dan kerajinan yang tergabung dalam HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia) menggelar Rakernas tahun 2024 yang berlangsung selama dua hari, yaitu Jum’at (16/2/2024) dan Sabtu (17/2/2024) di Hotel Aryaduta, Menteng, Jakarta. Pada Rakneras HIMKI 2024 tersebut bertemakan “Pentingnya Meningkatkan Daya Saing Industri Mebel dan Kerajinan Sebagai Kebijakan Prioritas untuk Mendukung Tercapainya Target Ekspor 5 Miliar USD”.

JAKARTA (Tilongkabilanews.id)– Memperbaiki daya saing industri mebel dan kerajinan nasional saat ini sangat penting untuk dilakukan oleh para pelaku industri mebel dan kerajinan yang tergabung dalam HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia). Kenapa daya saing di industri mebel dan kerajinan itu penting untuk diperhatikan? Alasannya agar  industri mebel dan kerajinan di dalam negeri ini mampu bersaing dengan   industri serupa dari luar negeri, terutama China, Vietnam dan Malaysia dalam meraih pasar global.

‘’Apalagi dalam kondisi krisis seperti saat ini dan ditambah semakin ketatnya persaingan global, tentunya memperbaiki daya saing ini mutlak harus dilakukan dan menjadi prioritas. Apalagi kita di HIMKI sepakat untuk mendukung tercapainya target ekspor senilai 5 miliar Dolar AS,’’ujar Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur pada acara Rakernas HIMKI  2024  di Hotel Aryaduta, Jakata , Jum’at (16/2/2024).

Adapun Rakernas HIMKI 2024 itu sendiri digelar selama dua hari, yaitu 16 dan 17 Februari dengan mengangkat tema “Pentingnya Meningkatkan Daya Saing Industri Mebel dan Kerajinan Sebagai Kebijakan Prioritas untuk Mendukung Tercapainya Target Ekspor 5 Miliar USD”.

Lanjut Sobur, saat ini Vietnam tetap perkasa untuk industri  mebel dan kerajinan, begitu pun Malaysia industri mebel dan kerajinannya sangat kuat juga. Sementara di sisi lain ekspor China mengalami penurunan.

‘’Namun kalau kita cermati secara mendalam,justru China lah yang sangat perkasa. Memang, data menunjukan China mengalami penurunan dari 85 miliar dolar AS ke 70 miliar dollar AS, turun 15 miliar dollar AS. Tetapi China ini pintar, China merelokasi industri mebelnya ke Vietnam, sehingga Vietnam lah yang mengekspor. Lebih dari 600 perusahaan China melakukan relokasi ke Vietnam,’’tutur Sobur..

Sobur menambahkan, kalau dilihat sekarang, pertumbuhan industri mebel dan kerajinan China sangat signifikan, sesungguhnya adalah pertumbuhan Vietnam yang dimana di dalamnya adalah China. Adapun alasan China memilih Vietnam karena mereka berbatasan daratan langsung.

Demikian juga yang terjadi di Malaysia, kata Sobur sama seperti Vietnam, dimana China mendekati Malaysia dengan relokasi industri. Walaupun tidak semasif Vietnam tentunya, tentu penggunaan teknologi canggih yang dipakai oleh China dan otomatis dipakai di Vietnam, sekarang juga dipakai di Malaysia.

‘’Untuk itu, kita  minta Kementerian Perindustrian untuk mendorong subsidi pada peremajaan teknologi. Permajaan itu artinya kita bawa ke arah teknologi yang canggih. Supaya ada produktivitas dan standarisasi. Inilah yang harus kita lakukan. Produktivitas kita harus didorong dengan teknologi canggih,’’kata Sobur.

Menarik investasi China masuk ke Indonesia, kata Sobur bukanlah hal yang mudah selama Vietnam dan Malaysia belum penuh. Hal ini tentu karena adanya kendala secara geografis. Tujuan ekspor mereka ke daratan itu lebih mudah.

Pada kesempatan itu, Sobur mengemukakan, HIMKI tetap optimis dengan industriebel dan kerajiinan nasional akan mengalami pertumbuhan. Alasannya industri mebel dan kerajinan di Indonesia memiliki pameran IFEX. Kegiatan pameran IFEX ini bisa dimantaakan untuk mobilisasi buyer masuk dari pasar non-tradisional  seperti India, Middle East ditarik ke Indonesia. Karena penurunan ekspor ini terjadi di pasar tradisonal, seperti Amerika dan Eropa.

‘’Untuk itu, HIMKI bekerjasama dengan kementerian-kementerian seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri untuk mendukung perluasan ke pasar non-tradisional. Kita juga akan membuat gerai-gerai yang permanen di sana. Mereka pun siap,’’ungkap Sobur.

Dia menambahkan, India menjadi salah satu tujuan ekspor Indonesia. Dengan pertumbuhan penduduk yang masif, bahkan nomor satu sekarang dan bukan negara produsen seperti China, India adalah pasar yang menjanjikan. Karena itu, HIMKI akan planning dalam waktu 5-10 tahun. Bahkan untuk memasuki pasar India itu, sudah mulai dijajaki dari tahun 2023.

Permintaan pasar masih besar

Sekretaris Jenderal HIMKI, Maskur Zaenuri pada acara Rakenas HIMKI tersebut mengatakan,meskipun kondisi perekonomian dunia belum pulih akibat kondisi geopolitik,namun permintaan terhadap produk mebel dan kerajinan masih terus tumbuh dengan pemasok utama China yang saat ini memimpin sebagai eksportir terbesar produk mebel dunia.

‘’Meskipun ekspor mebel dan kerajinan mengalami penurunan, HIMKI berharap penyelenggaraan pameran IFEX yang akan digelar pada akhir Februari sampai awal Maret 2024 bisa menahan laju penurunan ekspor. Oleh karena itu, dalam konteks upaya ini, peran IFEX sangatlah penting,’’ucap Maskur.

Kata Maskur,peluang pasar global terhadap produk mebel dan kerajinan masih terbuka yang disebabkan oleh maraknya pembangunan yang diproyeksikan akan menciptakan permintaan yang cukup besar akan produk mebel dan kerajinan nasional.

Terkait memanfaatkan peluang pasar tersebut, ujar Maskur, HIMKI tetap berusaha untuk menembus pasar-pasar baru. Apalagi jika industri mebel dan kerajinan nasionall dapat  memperhatikan kondisi semakin menurunnya permintaan pasar tradisional (AS dan Eropa), dimana kedua kawasan terbut mengalami inflasi yang sangat besar.

‘’Untuk itu, berbagai langkah strategis dibahas di Rapimnas ini mengingat industri mebel dan kerajinan adalah industri masa depan bagi Indonesia. Karena industri mebel dan kerajinan ini memiliki potensi pengembangan yang sangat besar, baik dari sisi bahan baku, sumber daya manusia, maupun serapan pasarnya,’’imbuh Maskur.

Industri mebel dan kerajinan merupakan salah satu industri prioritas yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, berdaya saing global, sebagai penghasil devisa negara serta menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang signifikan, dan serta didukung oleh sumber bahan baku yang cukup berupa kayu, rotan, bamboo dan serat alam lainnya.

Maskur menambahkan, terkait daya saing industri mebel dan kerajinan Indonesia di pasar global terletak pada sumber bahan baku alami yang melimpah dan berkelanjutan serta didukung oleh keragaman corak dan desain yang berciri khas lokal, serta ditunjang oleh SDM yang kompeten. (Lili)

 

 

banner 468x60

Author: 

Related Posts