Kreativitas Tinggi, Adhi Nugraha Sulap Limbah Kotoran Sapi Jadi Produk Kerajinan Bernilai Jual Tinggi

 Ekonomi

 

Direktur Utama PT. Navetta Solusi Kreatif, Adhi Nugraha

JAKARTA,(Tilongkabilanews.id)- Memiliki kreativitas yang tinggi diyakini kebanyakan orang menjadi salah satu pendukung seseorang untuk sukses dalam mewujudkan mimpinya. Karena melalui kreativitas tersebut, sesuatu yang dianggap tidak berguna atau menjadi limbah, maka bisa diolah menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai jual tinggi. Salah satu contohnya, yaitu kotoran sapi. Selama ini kotoran sapi itu dianggap hanya sebagai limbah yang dibuang begitu saja, Tetapi ada juga sebagian orang menjadikan limbah kotoran sapi itu untuk dijadikan pupuk.

Namun ditangan Adhi Nugraha yang memiliki kreativitas tinggi, kotoran sapi tersebut disulap menjadi produk yang memiliki nilai artistik yang menarik dengan nilai jual tinggi,

Berkat kemampuan  kreativitas  yang terasah dengan baik itu, kotoran sapi yang semula dianggap sebagai barang limbah diubah menjadi lampu artistik, speaker estetis, hingga pot bunga bernilai seni tinggi Bahkan produk yang dihasilkannya itu telah menghiasi koleksi permanen Museum of Modern Art (MoMA) di New York.

‘’ Dengan kreativitas memanfaatkan limbah yang selama ini dibuang lalu kita buat menjadi suatu produk menarik, itu semua dalam rangka merespon tuntutan zaman, dimana konsumen atau bayer menghendaki suatu produk yang materinya yang ramah lingkungan. Demikian juga dampak sosialnya harus menjadi ruh desain masa kini,” kata Adhi Nugraha ketika berbincang dengan wartawan Tilongkabilanews.id, di Jakarta, Rabu (14/5/2025).

Adhi Nugraha sendiri kini dipercaya sebagai Kepala Pusat Penelitian Produk Budaya dan Lingkungan ITB  mengemukakan, sejak tahun 2022, ia mulai  melakukan eksperimen dengan limbah kotoran sapi, mengolahnya menjadi material yang kuat dan bertekstur unik.

‘’Hasil dari eksperimen yang saya lakukan  yaitu berupa produk dekorasi rumah seperti lampu dan speaker yang dipamerkan di ajang IFEX 2025, bahkan dipajang di MoMA.’’ujar Adhi/

Lanjut Adhi, konsep pembuatan produk itu full cycle: bentuk dan material yang terinspirasi dari sapi, sekaligus menyelesaikan masalah limbah peternakan,” jelas pria yang juga dosen ITB ini.

Adhi Nugraha yang kesehariannya selaku dosen di ITB, dia juga dipercaya sebagai Dewan Pakar Bidang Desain DPP Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) yang juga praktisi desain berpengalaman di Jerman hingga Indonesia.

Adhi sendiri dalam menghasilkan karya produk terbaiknya itu selalu memperhatikan tiga poros utama tren global yang menjadi sorotannya saat ini. Ketiga poros utama yang dimaksud, yaitu: keinginan, dampak sosial, dan material inovasi.

Adhi menyebutkan pemenang Red Dot Award atau Ambiente, karena produk hasil karya mereka itu tidak hanya unggul secara estetika, tapi juga mengusung isu lingkungan, keterlibatan masyarakat, atau pemanfaatan limbah.

Menurut Adhi,  tren bukan sekadar warna atau tekstur yang dipaksakan industri.  Bagi Adhi sendiri tren  itu sesungguhnya lahir dari respons terhadap kenyataan: krisis iklim, kelangkaan sumber daya alam, dan kebutuhan akan produk yang bermakna.

“Kalau hanya ikut tren warna ‘hijau muda’ atau ‘perak’ yang digaungkan perusahaan cat, itu berputar, maka  produk yang dihasilkannya pun akan jadi cepat usang dan akhirnya jadi sampah. Ini tentunya menimbulka kemirisan seperti fast fashion,” ucap Adhi

Adhi Nugraha selain kesibukannya sebagai dosen di ITB dan Dewan Pakar Desain DPP HIMKI, dia juga disibukannya dengan bisnisnya. Di perusahaan bisnisnya itu, dia sebagai Direktur Utama PT. Navetta Solusi Kreatif.

Adhi dalam menjalan bisnisnya dibidang kerajinan ini dikenal dengan desainnya yang liar dan organik, sehingga menjadi ciri khas tersendiri.. Contohnya produk kerajinan dengan desain liar yang dihasilkannya itu,  yaitu seperti pot bunga berkaki empat menyerupai sapi, speaker berbentuk badan hewan ternak itu, atau lampu anyam yang mengadaptasi teknik kerajinan tradisional—semuanya diramu dengan pendekatan pribadi. “Inspirasi bisa datang dari mana saja: tradisi, alam, bahkan masalah sosial. Yang penting, produk punya cerita dan solusi.”

 Tren Asia

Sebagai bagian dari HIMKI, Adhi mendorong organisasi ini tak hanya jadi penyelenggara pameran, tapi jadilah trendsetter.

‘’’Karena dalam penyelenggaraan pameran IFEX harus punya tema tahunan yang visioner, seperti ‘Mixing Technology and Tradition’. Bayangkan: anyaman bambu dipadu stainless steel, atau teknik ukir kayu tradisional dengan cetakan 3D,” imbuh Adhi. Adhi sendiri membayangkan IFEX menjadi ajang yang dinanti-nanti industri Asia, dengan tema yang mengikat karya peserta ke dalam narasi besar.

“Kalau Jerman punya Ambiente, kenapa Indonesia tak bisa jadi kiblat desain berkelanjutan di Asia? Anggota HIMKI perlu berkolaborasi merancang tren sendiri, bukan sekedar ikut pasar.” Tuturnya.

Bagi Adhi, esensi desain bukan mengikuti arus, tetapi menciptakan nilai abadi. Prinsipnya sederhana: “Buatlah produk berkualitas, fungsional, dan mempunyai dampak. Tren akan datang-pergi, tapi karya yang bermakna akan selalu dikenang.”

Di tengah hingar-bingar industri, langkah Adhi Nugraha mengubah limbah menjadi mahakarya adalah bukti: desain bukan hanya soal keindahan, tapi juga keberpihakan. “Hidup ini singkat,” katanya. (Lili)

 

banner 468x60

Author: 

Related Posts