Isu Ramah Lingkungan, Pengusaha di Sleman Pilih Bisnis Furnitur Kayu Jati Daur Ulang

 Ekonomi

 

Direktur PT. Java Connection, Yehezkiel Suprianto yang akrab dipanggil Mas Anto,pengusaha furnitur kayu jati daur ulang di Sleman.

SLEMAN(Tilongkabilanews.id)–Seorang pegiat bisnis di bidang furnitur di kawasan Sleman, Yehezkiel Suprianto, telah mendapat mandat dan dipercaya menjabat sebagai Ketua DPD HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia) Sleman Raya periode 2024-2027.

Pria yang kesehariannya akrab dipanggil Mas Anto ini adalah seorang wirausahawan di bidang industri mebel yang telah cukup lama menggeluti bidang tersebut, yang pada  akhirnya memutuskan menjadi seorang wirausaha.  Sebelum sampai pada keputusan membuka usaha sendiri, dia telah melewati proses yang cukup panjang saat bekerja  di beberapa perusahaan mebel milik warganegara asing. Pengalaman ini menjadi bekal yang cukup berharga baginya untuk berkembang menjadi wirausahawan mandiri.

‘’Sebelum  memtuskan mendirikan usaha furnitur sendiri, saya pernah bekerja di beberapa industri serupa milik orang asing, sekitar kurang lebih 10 tahun,’’ demikian dikatakan Direktur PT. Java Connection ,Yehezkiel Suprianto yang akrab dipanggil Mas Anto ini saat berbincang dengan Tilongkabilanews.id, Minggu (18/8/2024).

Bekerja di perusahaan mebel milik warga negara asing telah mengasah kemampuan dan wawasannya dalam dunia mebel. Baik dalam produksi, design, proses finishing,  packing hingga  marketing untuk ekspor.

Setelah cukup lama berkecimpung dan mengantongi pengalaman kerja di industri  furnitur milik investor asing tersebut, mulai terbersit keinginan untuk mendirikan usaha furnitur sendiri. Alasan yang mendorongnya ingin membuka usaha sendiri adalah keinginan untuk bisa mandiri dan lebih berkembang serta kebebasan dalam menciptakan desain produk sendiri dan tentunya kesadaran agar tidak selamanya menjadi buruh di perusahaan milik orang lain. Impian memiliki usaha sendiri dan bebas berkarya menjadi trigger dan motivasi kuat baginya untuk memberanikan diri mendirikan sebuah perusahaan yang kemudian diberi nama PT. Java Connection.

Dalam menjalankan bisnisnya, pria penggemar sepakbola ini lebih tertarik menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan, yaitu dengan menggunakan kayu jati daur ulang. Alasan dirinya memilih bisnis di jalur ramah lingkungan ini  adalah karena isu-isu global mengenai lingkungan semakin kuat.  Kesadaran akan dampak dari produk yang mereka beli semakin bertambah.  Para buyer atau konsumen kerap kali menanyakan apakah produk yang mereka beli sudah memenuhi kriteria bahan baku yang ramah lingkungan atau produk yg sustainable . Hal ini tampaknya linear dengan bertambahnya kesadaran dunia internasional mengenai kelestarian lingkungan yang harus dijaga dan dirawat dengan baik.

Ini salah satu produk furniture berbahan kayu jati duar ulang yang dibuat PT. Java Connection

‘’Dengan kesadaran konsumen akan produk ramah lingkungan atau berkelanjutan itu menjadi peluang bisnis yang menarik bagi pelaku bisnis yang bergerak di industri furniture. Karena itu, saya pun memilih memproduksi furnitur dengan menggunakan daur ulang kayu jati,’’ demikian tuturnya.

Perusahaan yang didirikannya fokus membuat produk indoor furniture dengan bahan  kayu jati daur ulang, yang diberi sentuhan desain yang apik,  banyak diminati pembeli mancanegara. ‘’Para buyer di Eropa, seperti Jerman, Belgia, Prancis dan Amerika serta Australia yang  membeli produk  yang saya buat,’’ ujarnya

Tingginya respon dari buyer memotivasi dirinya untuk lebih bersemangat lagi dalam menekuni bisnis berbahan baku kayu daur ulang ini. Meski sebelumnya banyak yang menyangsikan kelanjutan bisnis furniture yang menggunakan bahan baku tersebut.

‘’15 tahun lalu pernah ada orang yang bilang kalau bisnis pembuatan furniture dengan menggunakan kayu bekas itu tidak akan lama. Alasannya bahan kayu bekas seperti kayu jati lama-lama akan berkurang, sehinggga nantinya akan menyulitkan pelaku industri pembuatan furniture yang mengandalkan kayu jati bekas itu,’’ katanya menirukan ucapan beberapa orang yang khawatir terhadap keberlanjutan produk berbahan kayu jati bekas itu.

Namun berbekal  pengalaman dan kepemilikan jaringan yang luas untuk mendapatkan bahan baku kayu bekas hingga saat ini tidak ada kendala yang berarti dalam penyediaan bahan baku, sehingga tidak menjadikan pemilik usaha furnitur ini mundur dan terpengaruh. ‘’Terbukti sampai sekarang bisnis pembuatan furnitur dengan menggunakan kayu jati bekas masih eksis dan semakin banyak diminati buyer,’’ ungkapnya. Untuk pasar dalam negeri, seperti café, restoran serta hotel-hotel pun juga cukup tertarik membeli produk furnitur yang diproduksinya.

Kendala yang ditemui dalam usahanya antara lain adalah sulitnya mendapatkan  SDM tukang kayu yang mau bertahan lama bekerja di industri furniture miliknya.

‘’Di Sleman dan Yogyakarta sekarang ini sulit untuk mendapatkan tukang kayu yang mau bekerja di industri furniture. Bahkan untuk mendapatkan SDM tukang kayu itu, saya pernah menjalin kerjasama dengan SMK yang mendidik siswanya di bidang perkayuan. Tetapi setelah lulus dari SMK, mereka lebih tertarik bekerja di perusahaan yang membuat produk furniture berbahan baku modern,’’ katanya.

Kendala ini berhasil diatasi dengan strategi getok tular, yaitu menyampaikan dari mulut ke mulut, kalau dirinya membuka lapangan pekerjaan bagi orang yang sedang mencari kerja. Strategi getok tular ini ternyata cukup manjur dalam merekrut tenaga kerja yang dibutuhkan yang di industrinya. Untuk tenaga kerja yang baru bergabung kerja di industri miliknya itu, kemudian diberikan pelatihan hingga tenaga kerja tersebut terampil dan mahir dalam pembuatan furniture yang sesuai dengan pesanan buyer.

Ketikanya ditanyakan, bagaimana cara mensiasati agar bisnis furniture tersebut tetap eksis dan diminati banyak buyer?

Kunci untuk memenangkan persaingan yang ketat di pasar produk furnitur, baik di pasar global maupun domestik, menurutnya adalah keberanian berinovasi dalam desain produk. Karena itu disini dituntut kreativitas yang tinggi untuk menghasilkan desain yang menarik dan disukai buyer.

‘’Kreativitas dalam menghasilkan desain terbaru itu mesti dilakukan secara berkelanjutan. Kalau kita mampu menghasilkan produk furnitur dengan desain terbaru dan menarik, pasti akan dilirik dan dibeli oleh buyer,’’ pungkasnya menutup perbincangan dengan media.(Lili)

 

banner 468x60

Author: 

Related Posts