Bisnis Furnitur dan Kerajinan Basuki Lacasa Art Gallery Dimulai dari Pameran Tanaman Hias Bonsa

 Ekonomi

 

Penerus pengelola perusahaan Basuki Lacasa Art Gallery, Roy Anugerah.

MALANG(Tilongkabilanews.id) Di sekitar Singosari, Malang, kawasan yang sarat jejak sejarah Kerajaan Singosari dan Majapahit, di daerah itu para perajin  yang bekerja di Basuki Lacasa Art Gallery sedang giat bekerja membuat ukiran produk furnitur maupun kerajinan.

Di tangan para perajin yang mahir dalam ukiran tersebut terwujud maha karya berupa furnitur dan kerajinan kayu ukir yang memiliki nilai estetika dan fungsi serta harga jual tinggi. Perusahaan Basuki Lacasa Art Gallery itu sendiri dalam menghasilkan produk kayu ukirnya itu  selalu bermotif heritage sejak 1990.

Basuki Lacasa Art Gallery itu sendiri sebagai perusahaan yang bergerak dalam pembuatan furnitur dan kerajinan kayu ukir tidak serta merta langsung dikenal sebagai produsen furnitur dan kerajinan berbahan kayu ukir yang berkualitas dengan ciri khasnya sendiri dengan motif Majapahit-Singosari yang tak ditemukan di Jepara, Jogja, atau Bali.

Berdirinya perusahaan Basuki Lacasa Art Gallery tersebut didirikan oleh Heri Basuki selaku perintis. Kisah Basuki Lacasa Art Gallery tak lepas dari perjalanan sang ayah. Di era transmigrasi 1980-an, Basuki belajar mengukir dari masyarakat Dayak di Kalimantan. Keterampilan itu dibawanya pulang ke Malang, lalu dikembangkan menjadi bisnis.

Namun bisnis yang dilakukan Heri Basuki itu dimulai dari hobi merawat dan membentuk tanaman hias bonsai. Heri Basuki sendiri memulai hobi merawat dan membentuk tananam hias bonsai itu dilakukan  dia  dengan memutuskan untuk pulang ke Pulau Jawa, setelah mencari peruntungan hidup melalui program Transmigrasi ke Kalimantan. Alasan Heri tidak melanjutkan hidup di perantuan di daerah Transmigrasi itu, setelah dia terkena sakit, sehingga keluarga lainnya pun meminta Heri untuk kembali ke kampung halaman, di Jawa Timur.

Sementara koleksi tanam hias bonsai yang dirawat dan dibentuknya itu, umlahnya cukup banyak. Akhirnya Heri Basuki pun ikut pameran bonsai. Hal itu dilakukan Heri Basuki, syukur-syukur tanaman hias bonsainya itu banyak diminati dan dibeli para pecinta tanaman hias tersebut.

Namun kenyataannya ‘’Dewi Fortuna’’ belum menunjukkan keberpihakannya kepada Heri Basuki dalam menjalankan usaha tanaman hias bonsai itu. Buktinya setiap pameran tanaman bonsai yang diikutinya, tidak ada satu pohon yang laku. Tetapi yang laku dan diminati para pengunjung pameran atau penikmat bonsai, yaitu tatakan pot tanaman bonsai, meja dan kursi taman yang digunakan dalam pameran.

‘’Ketika mengikuti pameran tanaman bonsai di Bali, ayah saya, yaitu Pak Heri Basuki dan saya sendiri ketemu dengan Pak Ismail Saleh, Menteri Kehakiman di era Presiden Soeharto. Beliau saat itu Ketua PPBI (Persatuan Penikmat Bonsai Indonesia). Pak Ismail mengetahui tanaman bonsai yang kami pamerkan tidak laku, melainkan tatakan, meja dan kursi tamannya yang terjual. Akhirnya Pak Ismail mengangkat ayah saya selaku Ketua Pembuat Prasarana Bonsai Indonesia.,’’Roy Anugerah anak pertama Heri Basuki sekaligus penerus bisnis Basuki Lacasa Art Gallery ketika berbincang dengan wartawan Tilongkabilanews.id. Senin (19/5/2025) pagi.

Roy melanjutkan kisah perjalanan bisnis yang dirintis ayahnya. Kata  Roy, setelah ayahnya ditunjuk Ismail Saleh untuk menyiapkan dan membuat prasarana terkait tanaman bonsai, Heri Basuki bingung untuk memulainya. Pasalnya tidak ada dana untuk membuat prasarana tanaman bonsai tersebut. Sementara order pembuatan  tatakan, meja dan kursi terus banyak.

‘Akhirnya berkat kebaikan dan kemurahan hati Pak Ismail Saleh, kami pun disuruh datang ke rumahnya di Jakarta. Pak Ismail Saleh pun memberikan ‘’ketebelece’’ surat rekomendasi untuk mendapatkan modal atau kredit dari perbankan,’’ujar Roy.

Bermodalkan ketebelece yang diberikan Menteri Kehakiman era Presiden Soeharto dan perlihatkan order, tambah Roy, akhirnya Heri Basuki pun mendatangi Bank BNI untuk mengajukan kredit

Setelah mendapat kucuran modal dari Bank BNI, tutur Roy Anugerah, pembuatan meja dan kursi pun dimulai oleh Heri Basuki dengan mendirikan perusahaan yang diberi nama Basuki Mebel.

Seiring perjalanan waktu, perusahaan Basuki Mebel pun mulai kebanjiran order dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan tidak hanya dari dalam negeri, buyer dari luar negeri pun mulai memesan produk furnitur dan kerajinan kayu ukir.

Banyaknya konsumen yang mau membeli produk furnitur dan kerajinan kayu ukir, itu dikarenakan komitmen perusahaan Basuki Mebel dalam membuat produknya  dengan memperhatikan bahan kayu jati berkualitas.

Adapun buyer dari luar negeri yang pertama kali memesan produk dari Basuki Mebel itu datang dari pembeli di Pulau La Casa di Spanyol. La casa berarti ‘rumah’ dalam bahasa Spanyol.

Akhirnya, kata Roy Anugerah, semula nama perusahaanya bernama Basuki Mebel diganti menjadi Basuki Lacasa Art Gallery. ‘’Ini simbol bahwa karya kami adalah rumah bagi kreativitas keluarga,” jelas Roy, yang kini memegang kendali bisnis tersebut.

Dia menambahkan Basuki Lacasa Art Gallery saat ini ntelah menjadi ikon furnitur dan kerajinan kayu ukir bermotif heritage.

Roy Anugerah sendiri selaku anak tertua dari Heri Basuki didapuk untuk melanjutkan mengelola bisnis yang telah dirintis ayahnya itu. Untuk itu, Roy pun melepas jabatan sebagai dosen di Universitas Wisnuwardhana Malang (Unidha) pada Februari lalu 2025. Alasan melepas jabatan sebagai dosen itu dilakukan, semanata-mata untuk sepenuhnya menghidupkan kembali bisnis warisan keluarga: Basuki Lacasa Art Gallery.

“Saya ingin fokus mengembalikan 65 karyawan kami yang sempat terpaksa diliburkan selama pandemi. Saat ini, 15-20 orang sudah kembali bekerja. Target akhir tahun, minimal 40 orang akan bergabung lagi,” ujarnya dengan tekad yang mengeras seperti kayu jati yang diukirnya. memegang kendali bisnis tersebut.

Dengan izin usaha seperti SIUP, TDP, dan NPWP, perusahaan perseorangan ini memadukan seni ukir tradisional dengan kebutuhan modern. Koleksinya meliputi relief dinding, patung anatomi hewan (kuda, rajawali, singa), gebyok ukir, hingga furnitur custom berbahan kayu jati.

“Kekuatan kami ada pada motif Majapahit-Singosari yang tak ditemukan di Jepara, Jogja, atau Bali,’’tutur Roy.

Ketika Karya Seni Menghadapi Ujian Zaman

Sebelum pandemi, Roy mengekspor produknya ke Inggris, Malaysia, dan Kolombia. Namun, sejak 2019, permintaan global melemah. “Buyer dari Amerika dan Eropa masih menahan diri. Bahkan pameran furnitur di Jogja pun sepi pembeli,” kisahnya.

Dampaknya, dari 65 perajin, hanya 4 orang yang tersisa di masa pandemi. Tapi Roy tak menyerah. Ia tetap memberikan THR dua kali Lebaran kepada karyawan yang diliburkan, sekaligus mendorong mereka membuka usaha kecil.

Konsistensi pada desain menjadi senjata utamanya. “Saya tidak ikut tren yang berubah-ubah. Di setiap pameran, buyer langsung mengenali produk kami dari motif dan anatomi hewan yang detail,” tuturnya.

Strategi ini terbukti efektif: meski ekspor terhambat, permintaan domestik dan pesanan custom tetap mengalir. Kini, dengan 15-20 karyawan yang kembali bekerja, Roy optimis galerinya akan bangkit.

 “Alhamdulillah, sejak fokus penuh ke bisnis, justru banyak tawaran jadi dosen tamu dan proyek konstruksi bermunculan,” tambahnya.

Sebagai dosen, Roy sempat membagi waktu antara mengajar dan mengelola galeri. Namun, panggilan untuk menghidupkan kembali karya seni warisan leluhur membuatnya memilih resign.

“Saya ingin membuktikan bahwa desain Indonesia bisa bersaing tanpa kehilangan identitas. Sekali dilihat, orang harus tahu itu produk asli sini,” tegasnya.

Roy Anugerah sendiri saat ini yang dipercaya HIMKI (Himpunan Industri Mebel Indonesia) selaku Ketua Bidang Promosi  Dalam Negeri, dia kerap menekankan pentingnya mempertahankan ciri khas lokal.

“Jangan tergoda tren sesaat. Meski produkmu modern, selipkanlah ornamen yang mencerminkan Indonesia,” pesannya.  Karena bagi Roy, seni ukir bukan sekadar komoditas, melainkan medium pelestarian budaya.

Kini, di workshop Basuki Lacasa Art Gallery yang mulai ramai kembali, suara pahat menyayat kayu jati seolah menjadi melodi harapan. Roy bertekad menjadikan 2025 ini sebagai tahun kebangkitan. “Target kami tak hanya memulihkan bisnis, tapi juga mengembalikan kebanggaan pada karya seni Indonesia,” tandasnya. Di tangannya, motif Majapahit bukan hanya ukiran di kayu—tapi juga ukiran di jalan sejarah yang ia terus telusuri dengan gigih. (Lili).

 

banner 468x60

Author: 

Related Posts