
Direktur sekaligus pemilik UD Citra Fajar Utama (CFU), sebuah perusahaan pembuatan mebel di Klaten, Jawa Tengah, Doddik Sulistiono
KLATEN – Seorang warga di salah satu desa di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dahulu semasa remajanya bercita-cita ingin menguasai dunia. Untuk mewujudkan cita-citanya dia terus berjuang menggapai impiannya itu melalui industri pembuatan mebel yang berkelas, sehingga produk furintur yang dihasilkannya itu benar-benar bisa menguasai pasar global.
‘’Itu keinginan atau cita-cita saya sejak kecil, bagaimana caranya untuk bisa menguasai dunia melalui sebuah karya yang dihasilkan seorang anak yang tinggal di desa di Klaten, sebuah kota yang tidak dikenal, tapi akhirnya bisa dkenal dan produknya diminati para pembeli di luar negeri,’ ujar Direktur sekaligus pemilik UD Citra Fajar Utama (CFU), sebuah perusahaan pembuatan mebel di Klaten, Jawa Tengah, Doddik Sulistiono ketika berbincang dengan wartawan Tilongkabilanews.id, Kamis (18/7/2024).
Doddik menuturkan, untuk mewujudkan cita-citanya menguasai dunia melalui sebuah karya yang dihasilkannya itu cukup berliku dan melalui proses perjalanan yang memakan waktu yang cukup lumayan lama. Namun Doddik merasa yakin cita-cita yang diperjuangkannya itu bakal terwujud.
Keyakinan Doddik yang kini selain sebagai pemilik perusahaan industri mebel UD Citra Fajar Utama, dia juga dipercaya oleh HIMKI sebagai Ketua Bidang Bahan Baku Kayu Solid, telah membuahkan hasil yang cukup menggembirakan.
Pasalnya produk furnitur yang diproduksi perusahaanya dan diberi merek atau brand CFU sudah merambah ke beberapa berbagai negara dalam rangka memenuhi pasar ekspor. Maksudnya, produk mebel buatan CFU ni dikirim ke beberapa negara tujuan ekspor ke Eropa, seperti Pracnis, Italia dan lain-lain.
‘’Selain ke Eropa, produk mebel buatan CFU juga diekspor ke China. Adapun sekarang ini kami sedang melakukan penjajakan ekspor ke pasar Amerika Serikat,’’ ucap Doddik.
Doddik menuturkan, tanggapan dari pembeli produk mebel CFU ini yang datang dari pembeli di luar negeri cukup beragam, dan rata-rata mengatakan sudah cukup bagus dan tetap order.
‘Konsumen dari luar negeri itu bilang merasa puas terhadap produk mebel buatan CFU. Tanggapan itu memang tergantung segmen pasar mana yang dibidiknya. Namun, kami di CFU tetap berusaha untuk menghasilkan produk furnitur yang berkualitas dengan desain menarik dan unik,’ imbuh Doddik.
Sementara untuk pasar dalam negeri, tambah Doddik, perusahaanya sudah menjalin kerjasama dengan salah satu perusahaan coffe shop terkenal, di dunia dan juga tersebar di beberapa kota di Indonesia. Kerjasama antara CFU dengan perusahaan yang bergerak di bisnis gerai kopi itu sudah berlangsung 10 tahun lebih.

Salah satu produk furnitur buatan UD Cita Fajar Utama di Klaten Jawa Tengah
Pada kesempatan itu, Doddik mengungkapkan kegiatan bisnis mebel yang sekarang sedang digelutinya dimulai pada tahun 2012. Namun sebelum terjun di bisnis furniture, kata Doddik, terlebih dahulu merintis usaha di bidang trading atau perdagangan kayu jati, mahoni dan jenis kayu lainnya. Itu semua kayu rakyat
‘’Bisnis trading bahan baku kayu itu, saya rintis pada tahun 1998 tepat berdirinya UD Citra Fajar Utama. Seiring perkembangan waktu, saya berubah orientasi dalam mendapatkan suplai kayu, yaitu menjalin kerjasama dengan PT Perhutani. Pada pertengahan 2008, manajemen PT Perhutani merubah kebijakannya, yaitu untuk memasok langsung bahan baku kayunya ke industri. Padahal sebelum adanya perubahan kebijkan itu, ada pihak tengah yang selama ini jadi pemasok kayu dari Perhutani ke industri merasa aman-aman saja dalam menjalankan bisnis trading bahan baku kayu untuk kebutuhan industri. Namun sejak adanya kebijakan baru dari PT Perhutani itu, tentunya membuat kebingungan bagi pihak tengah, seperti kami di UD CFU dalam melanjutkan bisnisnya,’’ beber Doddik.
Lanjut Doddik, dia tidak mau menyerah begitu saja dalam menjalankan bisnisnya terkait adanya kebijakan baru dari PT Perhutani. Akhirnya diputuskan untuk memulai terjun dalam industri pembuatan mebel dan wood working.
Dengan bermodalkan semangat dan tidak pernah untuk menyerah dalam bisnisnya, kini dia bersama perusahaan miliknya CFU terus berkibar dalam industri pembuatan furnitur dan wood working yang sudah dikenal di pasar global, sesuai cita-cita yang menjadi impiannya di masa remaja dulu.
Ketika ditanyakan, bagaimana caranya agar industri mebel dan kerajinan di Indonesia tetap lanjut eksis dan terus berkembang hingga generasi penerus dari pemilik perusahaan tersebut?
Menurut Doddik, agar bisnis furnitur dan kerajinan di dalam negeri ini tetap bisa terus berlanjut, tentu generasi pertama atau orang tua pemilik perusahaan mebel dan kerajinan ini harus melakukan pemahaman dan pendampingan kepada putra-putri mereka sebagai penerus bisnis yang telah dirintis oleh orang tuanya.
‘’Adapun pemberian pemahaman dan pendampingan itu harus dilakukan terus menerus atau berkala, sehingga anak-anak itu menjadi paham dan mengerti betul seluk beluk dalam menjalankan bisnisnya itu, sehingga di kemudian hari mereka telah siap melanjutkan bisnis yang telah dilakukan orang tuanya,’’ pungkas Doddik.(Lili )