Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » LEMBUR PAKUAN:,  Simbol Kerinduan Publik Jawa Barat ‎

LEMBUR PAKUAN:,  Simbol Kerinduan Publik Jawa Barat ‎

  • account_circle Lil Sukabumi
  • calendar_month 0 menit yang lalu
  • visibility 2
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

 

Oleh:  : Toto Izul Fatah

‎KUNJUNGAN   ribuan orang pada setiap akhir pekan ke Lembur Pakuan di Subang Jawa Barat, memang tak bisa dibaca hanya dengan rumus wisata biasa. Ia lebih tepat dijelaskan sebagai gejala sosial baru.

‎Terutama, dalam konteks, tak kurang dari *5000 sampai  10.000 orang,* khususnya pada Sabtu dan Minggu, datang kesana berkali-kali. Seperti ada magnet  yang mampu menyedot publik untuk terus berkunjung ke tempat itu.

‎Memang betul, Lembur Pakuan itu tempat dimana Gubernur Jawa Barat, *Kang Dedi Mulyadi (KDM)* tinggal setiap hari. Tapi, kalau pun mereka tahu KDM tinggal disana, toh mereka juga sadar tak mudah untuk ditemui, terutama karena tugas dan kerjanya yang harus keliling Jawa Barat.

‎Memang betul, Lembur Pakuan kini sudah menjadi lokasi destinasi wisata yang dapat menyegarkan mata karena hamparan sawahnya yang indah, udaranya yang segar, dan jalan-jalannya yang mulus berhias ornamen beraroma kental budaya Sunda. ‎Tetapi, jika semata-mata karena berwisata, toh banyak juga lokasi lain yang bisa dikunjungi.

‎Lalu, untuk apa warga berbondong-bondong datang kesana? Inilah fakta yang menguatkan bahwa Lembur Pakuan hari ini bukan hanya sebatas tempat tinggal KDM dan tempat orang berwisata, tapi lebih dari itu, telah berubah menjadi ruang simbolik yang bermakna sangat dalam.

‎Tepatnya, mereka datang karena ada daya tarik ganda. Yaitu, daya tarik wisata dan  daya tarik batin. Ada daya tarik hiburan dan daya tarik kerinduan. Sebagian, memang datang untuk murni wisata, mulai dari  menikmati suasana sawah, jalan desa, udara kampung, aliran irigasi, dan nuansa ruang terbuka yang kian langka di kota-kota padat.

‎Sebagian lain datang karena ingin melihat langsung sosok KDM, atau setidaknya ingin merasakan jejak kepemimpinan yang ia bangun lewat lingkungan tempat tinggalnya.

‎Saat ini, publik memang sedang rindu pada pemimpin yang tidak hanya berbicara dari podium, tetapi menghadirkan contoh hidup yang bisa disentuh. Dalam konteks ini, Lembur Pakuan bekerja sebagai “narasi hidup” tentang seorang pemimpin.

‎Rumahnya terbuka, kampungnya tertata, sawahnya dirawat, airnya dijaga, budayanya dihidupkan, dan warganya ikut bergerak. Itu sebabnya daya tariknya bukan semata fisik, tetapi juga simbolik.

‎Bahkan, sejak sebelum menjabat gubernur, KDM sudah menyebut Lembur Pakuan sebagai laboratorium pertanian organik dan lingkungan yang terintegrasi. Dan  dalam perkembangan berikutnya, kawasan itu juga disebut sebagai ruang inovasi pertanian-perikanan berbasis lingkungan.

‎Pertanyaan yang lebih menarik adalah: apa sebenarnya yang dirindukan ketika mereka berbondong-bondong ke Lembur Pakuan?

‎*Pertama,* ada kerinduan kepada sosok pemimpin yang membumi. Di tengah zaman ketika banyak pejabat terasa jauh, terlalu formal, terlalu protokoler, dan terlalu administratif, publik tampaknya merespons figur yang terlihat hadir dalam bahasa keseharian rakyat.

‎*Kedua,* ada kerinduan kepada keindahan yang sederhana. Lembur Pakuan bukan magnet karena gedung mewah atau arsitektur glamor. Justru daya tariknya lahir dari sawah, jalan kampung, saluran air, lanskap desa, dan kesan tertib yang alami.

‎Dalam *psikologi sosial modern,* ini penting.  Masyarakat kota dan kelas pekerja hari ini mengalami kelelahan visual, kelelahan sosial, dan kelelahan emosional.

‎Maka ketika mereka menemukan ruang yang hijau, rapi, organik, dan terasa “manusiawi”, mereka datang bukan hanya sebagai wisatawan, tetapi sebagai orang yang sedang memulihkan diri.

‎*Ketiga,* ada kerinduan kepada kejayaan masa lalu yang dibayangkan hidup kembali. Nama “Lembur Pakuan” sendiri membawa resonansi sejarah dan kebudayaan Sunda. Ia mengandung gema tentang tatanan hidup lama yang tidak sepenuhnya hilang. Ia adalah kampung yang bukan sekadar lokasi tinggal, tetapi ruang peradaban. Mereka disana seperti sedang mencari pengalaman simbolik, bahwa tradisi tidak harus kalah oleh modernitas.

‎*Keempat,* sangat mungkin ada kerinduan kepada bangkitnya etika Sunda yang ramah pada alam dan manusia. Yaitu, ajaran tentang  *silih asah, silih asih, silih asuh,* juga welas asih, kesederhanaan, keterbukaan, dan penghormatan pada lingkungan.

‎Ini tentu  bukan sekadar romantisme budaya. Ketika orang melihat sebuah kampung yang bersih, tertata, hidup, ramai, dan ekonominya ikut bergerak, mereka sesungguhnya sedang melihat bahwa nilai-nilai kultural bisa punya bentuk praktis.

‎Lembur Pakuan memberi pesan sederhana namun kuat, bahwa kampung bisa menjadi magnet; budaya pun bisa menjadi energi pembangunan; dan kepemimpinan pun bisa terasa hangat, bukan dingin.

‎Dalam persfektif yang lebih luas, fenomena Lembur Pakuan menjadi relevan untuk kepentingan nasional. *Pertama,* ia memberi pelajaran bahwa pembangunan nasional tidak selalu harus dimulai dari megaproyek.

‎Kadang-kadang yang paling kuat justru contoh mikro yang bisa direplikasi seperti  kampung tertata, pertanian organik berjalan, wisata tumbuh, UMKM hidup, dan budaya bergerak.

‎*Kedua,* fenomena ini penting bagi agenda nasional tentang revitalisasi desa. Indonesia terlalu lama memandang desa hanya sebagai objek bantuan atau daerah tertinggal yang harus “disusul” kota.

‎*Ketiga,* ini relevan dengan kebutuhan Indonesia untuk membangun modernitas yang tidak tercerabut dari kebudayaan. Bangsa ini tidak akan kuat jika modern hanya dalam gedung, tetapi rapuh dalam nilai.

‎Dalam kaitan inilah, sekali lagi, fenomena Lembur Pakuan harus dibaca luas. Ia telah tumbuh menjadi tanda zaman, bahwa rakyat sesungguhnya sedang mencari lebih dari sekadar tontonan.

‎Mereka sedang mencari teladan. Dan ketika teladan itu terlihat, walau hanya dari sebuah kampung di Subang, orang akan datang berbondong-bondong, sebab di sana mereka merasa menemukan sesuatu yang langka, yaitu HARAPAN.

‎Jakarta,  Mei 2026

‎( Toto Izul Fatah adalah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSi Denny JA  juga Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat(.

  • Penulis: Lil Sukabumi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wagub Idris Nilai Kinerja Kanwil Kemenkumham Gorontalo Cukup Baik

    Wagub Idris Nilai Kinerja Kanwil Kemenkumham Gorontalo Cukup Baik

    • calendar_month Jumat, 14 Jan 2022
    • account_circle Lil Sukabumi
    • visibility 330
    • 0Komentar

      BONEBOL(Tilongkabilanews.id) – Wakil Gubernur Gorontalo H. Idris Rahim menilai kinerja Kakanwil Kemenkumham Gorontalo dengan divisi dan unit pelaksana teknisnya sudah cukup baik. ‘’Bahkan berdasarkan penilaian Ombudsman, dari sembilan satuan kerja Kanwil Kemenkumham Gorontalo, sudah tiga yang termasuk dalam Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani,”ujar Wagub Idris pada Deklarasi Janji Kinerja aparatur di […]

  • Adanya Layanan Warkop Samsat, Bayar Pajak Kendaraan tidak Perlu Antri

    Adanya Layanan Warkop Samsat, Bayar Pajak Kendaraan tidak Perlu Antri

    • calendar_month Selasa, 28 Des 2021
    • account_circle Lil Sukabumi
    • visibility 377
    • 0Komentar

      GORONTALO (Tilongkabilanews.id)-Tiga instansi seperti Ditlantas Polda Gorontalo, Pemprov Gorontalo dan Jasa Raharja telah berhasil menerapkan gagasannya dalam memberikan pelayanan terkait pembayaran pajak  kendaraan yang semakin mudah. Semakin mudahnya yang dimaksud, yaitu para wajib pajak di Provinsi Gorontalo yang ingin bayar pajak kendaraannya bisa memanfaatkan program Warkop Samsat. Program Warkop Samsat itu sendiri, Selasa (28/12/2021) […]

  • Pasar Yosonegoro  di (Kabgor) Pasar Pertama Terapkan Ssistem  QRIS dalam Pembayaran Tagihan Retribusi

    Pasar Yosonegoro  di (Kabgor) Pasar Pertama Terapkan Ssistem  QRIS dalam Pembayaran Tagihan Retribusi

    • calendar_month Jumat, 23 Agt 2024
    • account_circle Lil Sukabumi
    • visibility 157
    • 0Komentar

      LIMBOTO (Tilongkabilanews.id)– Pasar Yosonegoro  di Kabupaten Gorontalo (Kabgor0 terpilih menjadi pasar pertama yang menerapkan  sistem pembayaran dalama penagihan  retribusi pasar dengan Quick Response Code Indonesian Standard (ORIS).Tujuan diterapkannya sistem pembayaran seperti itu, yaitu untuk mendukung proyek perubahan (proper) Transparansi dan Akuntabilitas Layanan Retribusi Terintegrasi (Takar lsi) di Kabgor. Terwujudnya sistem pembayaran dengan penggunaan  QRIS […]

  • Beberapa Tahapan Persiapan Penas Di Gorontalo Telah Selesai Dikerjakan

    Beberapa Tahapan Persiapan Penas Di Gorontalo Telah Selesai Dikerjakan

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Azis Moonti
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Laporan; Darwin Tolinggi, S.Pd, M.Pd / Sekretaris KTNA Provinsi Gorontalo. GORONTALO(Tilongkabilanews.id) – Persiapan PENAS XVII 2026 di Gorontalo sudah mulai digerakkan, menyusul sejakbeberapa bulan terakhir, gaung penyelenggaraan agenda akbar ini terus di sosialisasikan, bahkan hampir seluruh daerah di indonesia telah terdaftar hadir dalam momen nasional bahkan internasional, karena dihadiri oleh beberapa negara tetangga. Beberapa tahapan […]

  • Upayakan Perlindungan Usaha di Dalam Negeri, Kemendag Dorong Pemahaman Kebijakan Trade Remedies

    Upayakan Perlindungan Usaha di Dalam Negeri, Kemendag Dorong Pemahaman Kebijakan Trade Remedies

    • calendar_month Selasa, 20 Feb 2024
    • account_circle Lil Sukabumi
    • visibility 187
    • 0Komentar

    SEMARANG(Tilongkabilanwes.id)– Sebagai sistem perdagangan multilateral, World Trade Organization (WTO) mengatur hubungan perdagangan antar anggotanya dengan tujuan membentuk tatanan perdagangan dunia yang lebih lancar, lebih terbuka, dan lebih terprediksi. ‘’Sama seperti anggota WTO lainnya, keikutsertaan Indonesia sebagai anggota WTO memberikan konsekuensi, baik berupa hak dan kewajiban, atas apa-apa saja yang telah diperjanjikan. WTO juga telah menyediakan […]

  • Budiyanto : Peran LPTQ  Bukan Hanya Sekedar Selenggarakan STQH dan MTQ Saja

    Budiyanto : Peran LPTQ  Bukan Hanya Sekedar Selenggarakan STQH dan MTQ Saja

    • calendar_month Kamis, 13 Jul 2023
    • account_circle Lil Sukabumi
    • visibility 381
    • 0Komentar

      GORONTALO(Tilongkabilanews.id)– Peran Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran  (LPTQ) bukan hanya sekedar menyelenggarakan  STQH (Seleksi Tilawatil Qur’an  dan Hadis) maupun MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an), namun juga membentuk masyarakat yang Qurani secara lebih luas. Pernyataan tersebut disampaikan Penjabat Sekretaris Daerah Budiyanto Sidiki  dalam sambutannya ketika  dikukuhkan sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran Provinsi Gorontalo Masa Bakti 2023-2026 […]

expand_less